A. Latar Belakang
Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik
(berdarah dingin) yang hidup di air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan
kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000
di seluruh dunia. Secara taksonomi,
ikan tergolong kelompok paraphyletic yang
hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan; biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies
termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800
spesies termasuk hiu
dan pari), dan sisanya tergolong ikan
bertulang keras (kelas Osteichthyes).
Ikan dalam berbagai bahasa daerah disebut iwak, jukut.
Ikan sebagai hewan air
memiliki beberapa mekanisme fisiologis yang tidak dimiliki oleh hewan darat.
Perbedaan habitat menyebabkan perkembangan organ – organ ikan disesuaikan
dengan kondisi lingkungan. Misalnya, sebagai hewan yang hidup di air, baik itu
di perairan tawar maupun arah arus, karenanya ikan dilengkapi dengan organ yang
dikenal sebagai linea lateral. Contoh lain, perbedaan konsentrasi ikan
melakukan osmoregulasi untuk mempertahankan konsentrasi cairan tubuh memaksa
ikan melakukan osmoregulasi untuk mempertahankan konsentrasi cairan tubuhnya akibat difusi dan
osmose. Bila hal itu tidak dilakukan maka ikan laut dapat menjadi ikan kering
yang asin, sedangkan ikan air tawar
dapat mengalami kematian akibat kelebihan air.
Dengan beraneka ragamnya
spesies ikan yang hidup di bumi, maka sangatlah perlu sekali pekerjaan koleksi
ikan dalam pengumpulan ikan, penyimpanan dalam media pengawet, identifikasi,
pencatatan informasi dan pemberian label.
Koleksi ikan didefinisikan
sebagai kumpulan ikan yang diperlukan sebagi contoh/sampel/spesimen untuk
keperluan studi, identifikasi, dan pemajangan (tontonan). Pengumpulan
contoh atau spesimen meliputi :
-
Pengumpulan ikan yang ada disekitar
-
Penjelajahan atau eksplorasi
-
Ekspedisi atau eksplorasi ke tempat khusus yang jauh
Pengumpulan ikan biasanya
diperlukan dalam berbagai maksud, misalnya :
· Pengumpulan contoh dalam rangka suatu
penelitian.
·
Pengumpulan contoh untuk dijadikan referensi.
·
Pengumpulan contoh untuk komunikasi antar para
ahli atau antar lembaga.
Pengumpulan tersebut tidaklah mudah. Pengumpulan ikan
semuanya menggunakan alat dan cara penangkapan khusus. Targetnya adalah
terkumpulnya berbagai jenis ikan dalam jumlah banyak sehingga dapat mewaliki
keanekaragaman ikan pada lingkungan atau lokasi bersangkutan.
Tujuan dari pengumpulan ikan ini adalah untuk memberikan
pengalaman praktis mengenai pekerjaan koleksi ikan, khususnya untuk ikan-ikan
yang terdapat di lingkungan kampus yang kemungkinan terbanyak merupakan
jenis-jenis ikan air tawar.
Koleksi ikan yang dilakukan perlu dilengkapi dengan
keterangan sahingga berguna untuk masa yang akan datang, baik bagi kolektornya
maupun untuk orang lain. Keterangan
tersebut meliputi hal-hal yang berhubungan dengan koleksi berangkutan. Dalam
hal ini ada dua macam keterangan; yang pertama keterangan singkat yang
dilekatkan pada tubuh ikan yang bersangkutan; kedua keterangan yang lebih luas
yang ditempelkan pada buku catatan khusus.
Pelabelan
adalah salah satu kegiatan dalam koleksi ikan yang wajib dilakukan dengan
maksud mempermudah pengidentifikasian koleksi ikan. Selain itu pelebelan dapat membantu sebagai
referensi jenis bagi kolektornya maupun bagi orang lain.
Dalam
pelabelan pekerjaan yang harus dilakukan meliputi :
1.
Setiap
contoh yang dikumpulkan harus segera diberi label atau etiket, sehingga menjadi
keterangan yang berguna bagi pemilik koleksi maupun orang lain dalam jangka
panjang.
2.
Label ditulis di
atas kertas dan tinta (pensil) tahan air, misalnya kertas kalker.
3.
Pembaharuan label dapat dilakukan, namun bila isinya
ada perbedaan, etiket lama jangan dimusnahkan.
4.
Etiket atau label tersebut berisi tentang keterangan
tempat, waktu (tanggal), dan nama pengumpul. Keterangan lain yang juga penting
adalah kelamin, berat dan warna spesimen.
Disamping label yang langsung
diletakkan pada spesimen atau contoh tubuh ikan,
sebaiknya catatan khusus mengenai spesimen
tersebut yang di tempatkan secara terpisah namun dalam ruang yang sama atau yang berdekatan dan isinya sebagian besar adalah catatan data yang sangat
penting.
Pelabelan yang keliru dapat
menghambat pemasaran, mengurangi keefektipan dan manajemen keamanan pangan.
Pelabelan tidak hanya sekedar nama yang benar dari spesies ikan yang
bersangkutan tetapi bahkan semakin dituntut untuk berisi imformasi lainnya.
Koleksi ikan yang dilakukan
perlu dilengkapi dengan keterangan sehingga dapat dipergunakan untuk masa yang
akan datang, baik bagi kolektornya maupun untuk orang lain. Keterangan tersebut
meliputi hal-hal yang berkaitan dengan koleksi bersangkutan. Dalam hal ini ada
dua macam keterangan; pertama, keterangan singkat yang dilekatkan pada tubuh
ikan bersangkutan; kedua keterangan yang lebih luas yang ditempelkan pada wadah
koleksi dan keterangan yang ditempatkan pada buku catatan khusus.
Berdasarkan tujuan atau sifat
dari koleksi, maka koleksi ikan dapat dibagi dalam beberapa jenis, yaitu :
1. Koleksi umum, yaitu koleksi yang akan
ditujukan kepada pemeran umum.
2. Koleksi
pendidikan, yaitu koleksi yang dimiliki oleh perguruan tinggi yang dipergunakan dalam memberikan pengajaran
kepada mahasiswa.
3. Koleksi
identifikasi, yaitu koleksi yang dipergunakan dalam usaha identifikasi
taksonomi.
4. Koleksi
survey, yaitu koleksi yang diperoleh dalam survey yang dilakukan di daerah
geografis tertentu.
6. Koleksi spesimen-type, koleksi ini terdiri
dari spesimen yang dipergunakan sebagai dasar pemberian nama kepada spesiesnya.
Tiap spesies ikan memiliki ukuran mutlak
yang berbeda-beda. Perbedaan disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Jenis makanan yang dimakan,
2. Umur
3. Jenis kelamin, dan
4. Lingkungan dimana ikan itu tinggal.
Para ahli taksonomi
menyadari bahwa dalam
melakukan pekerjaannya memerlukan
banyak contoh, tetapi sering kali mereka terbentur dengan kurangnya material.
Oleh karena itu, banyaknya material (contoh ikan) yang ada di museum akan
sangat membantu keberhasilan pekerjaan ini.
B.
Tujuan
Praktikum
Adapun tujuan praktikum kali ini
adalah sebagai berikut :
1.
Untuk memberikan pengalaman praktis mengenai pekerjaan
koleksi ikan, khususnya untuk ikan-ikan yang terdapat disekitar kampus.
2.
Untuk memberikan pengalaman praktis mengenai pekerjaan
pemberian label pada koleksi ikan yang berisi mengenai keterangan dari
ikan-ikan yang dikoleksi.
Penerepan ikhtiologi sering dihubungkan dengan biologi kelautan,
limnologi, dan oseanografi. Air adalah suatu zat pelarut yang bersifat yang
sangat berdaya guna,yang mampu melarutkan zat-zat lain dalam jumlah besar dari
pada zat cair lainnya.Sifat-sifat ini dapat dilihat dari banyak unsur-unsur
pokok yang terdapat dalam air laut (Anonim, 2003).
Tentang apa yang dimaksud dengan ikan para ichtyologi telah banyak
mendefinisikannya. Secara umum bahwa yang dimaksud dengan ikan
adalah binatang vertebrata yang berdarah dingin, hidup dalam lingkungan air,
menggerakkan dan keseimbangan badan terutama menggunakan sirip dan umumnya bernafas
dengan insang (Anonim, 2003).
Ikan itu sendiri dapat didefinisikan sebagai binatang vertebrata yang
berdarah dingin yang hidup dalam lingkungan air. Adapun pergerakan dan
keseimbangan badannya menggunakan sirip dan umumnya bernafas dengan insang.
Bentuk ikan akan beradaptasi dengan lingkungan tempat hidupnya. Dengan kata
lain, habitat atau tempat hidup ikan akan berpengaruh terhadap bentuk tubuh dan
fungsi alat tubuh. Sedangkan cara bergerak maupun tingkah lakunya akan berbeda
dari satu habitat ke habitat lainnya. Ikan akan tnenyesuaikan diri dengan
faktor fisika, kimia, dan biologinya dari habitat itu sendiri (Saanin, 1968).
Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup
di air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang
paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia.
Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan
kekerabatannya masih diperdebatkan; biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa
rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan
bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan
sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes). Ikan dalam
berbagai bahasa daerah disebut iwak,
jukut (Anonim, 2008).
Ikan sebagai hewan air
memiliki beberapa mekanisme fisiologis yang tidak dimiliki oleh hewan darat.
Perbedaan habitat menyebabkan perkembangan organ – organ ikan disesuaikan
dengan kondisi lingkungan. Misalnya, sebagai hewan yang hidup di air, baik itu
di perairan tawar maupun arah arus, karenanya ikan dilengkapi dengan organ yang
dikenal sebagai linea lateral. Contoh lain, perbedaan konsentrasi ikan
melakukan osmoregulasi untuk mempertahankan konsentrasi cairan tubuh memaksa
ikan melakukan osmoregulasi untuk mempertahankan konsentrasi cairan tubuhnya akibat difusi dan
osmose. Bila hal itu tidak dilakukan maka ikan laut dapat menjadi ikan kering
yang asin, sedangkan ikan air tawar
dapat mengalami kematian akibat kelebihan air (Anonim, 2004).
Ikan air tawar banyak memiliki spesies atau jenis. Pada awalnya ikan
banyak hidup dan tersebar diberbagai perairan tawar, misalnya di sungai-sungai,
di rawa-rawa atau di danau-dana. Karena Perkembangan peradapan manusia yang
membuahkan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka ikan-ikan yang tadinya hidup di
perairan bebas banyak ditetaskan di kolam budidaya (Anonim, 2009).
Pekerjaan koleksi ikan sering
digunakan dalam berbagai maksud, misalnya pengumpulan contoh dalam rangka suatu
penelitian, pengumpulan contoh untuk dijadikan referensi, atau pengumpulan
contoh untuk komunikasi antar para ahli atau lembaga. Secara umum, koleksi ikan
ini meliputi pengumpulan berbagai jenis ikan, penyimpanan dalam media pengawet,
identifikasi dan pencatatan informasi yang berhubungan dengan koleksi, serta
pemberian label (Hisbi, 2011).
Koleksi ikan yang telah dilakukan
perlu dilengkapi dengan keterangan-keterangan sehingga berguna untuk masa yang
akan datang, baik bagi kolektornya maupun untuk orang lain. Keterangan tersebut
meliputi hal-hal yang berhubungan dengan koleksi bersangkutan. Dalam hal ini
ada 2 keterangan, yaitu :
1.
Keterangan singkat yang dilekatkan pada tubuh ikan.
2.
Keterangan yang lebih luas yang ditempelkan pada wadah
koleksi dan keterangan yang ditempatkan pada buku catatan khusus (Hisbi, 2011).
Ikan bawal laut bukan merupakan ikan yang
asing, terutama bagi masyarakat yang tinggal didaerah pantai maupun mereka yang
menyukai masakan sea food. Ikan bawal
ini mempunyai daging yang rasanya enak dan kandungan gizinya tergolong tinggi. Tak heran bila ikan bawal
sangat digemari masyarakat. Namun, karena harganya cukup mahal, tidak semua
lapisan mampu masyarakat membelinya (Usni,
2006).
Meskipun kedudukan ikan bawal belum bisa
sejajar dengan ikan-ikan konsumsi lainnya, tetapi kehadirannya memiliki arti
tersendiri, terutama dalam memperkaya khasan ikan budi daya di indonesia.
Selain pertumbuhannya cepat, kelebihan ikan bawal adalah cara memeliharanya
yang tidak rumit. Ikan ini dapat dipelihara dikolam dengan tingkat kelangsungan
hidup yang tinggi (Usni, 2006).
Bawal putih juga dikenali dengan
panggilan bawal cermin, kilat, dueh putih atau dueh bujang. Ia juga dipanggil Silver Pomfret. Bawal cermin berbentuk seperti
rombus dan sedikit cembung. Bawal cermin dewasa kelihatan lebih lebar dan
cembung. Mata terletak di bahagian kepala yang kelihatan seakan bersambung
terus dengan badan (Anonim, 2010).
Meskipun badan bawal cermin kelihatan lebar tetapi
mulut dan matanya agak kecil dan berhimpun di sudut hujung bahagian kepala.
Rahang atas dan bawah juga tidak boleh membuka dengan luas. Mungkin juga bawal cermin mendapat namanya
dari pantulan cahaya dari badannya yang berkilat dan berwarna perak. Garisan
deria di badannya bermula dari insang hingga mencecah zon ekor.
Ikan Bawal banyak terdapat di Lautan Hindi selain Afrika, Malaysia dan jepang. Ikan Bawal hidup dan berenang secara berkumpulan. Biasanya pada
musim tertentu bawal cermin boleh didapati dengan banyak. Ia juga dikatakan
sering didapati beriringan dengan udang di dasar laut (Anonim, 2011).
Pergerakan
spesies bawal dalam berkawan menjadikannya sebagai tangkapan yang sesuai dengan
menggunakan pukat. Bagaimanapun ia boleh ditangkap menggunakan pancing dan rawai.
Kingdom :
Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrat
Kelas : Actinopterygii
Order : Perciformes
Famili : Bramidae
Genus : Pampus
Spesies : P. argenteus
Binomial : Pampus argenteus (Anonim, 2011)
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrat
Kelas : Actinopterygii
Order : Perciformes
Famili : Bramidae
Genus : Pampus
Spesies : P. argenteus
Binomial : Pampus argenteus (Anonim, 2011)
Ikan ini
merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomis cukup tinggi
dan berasal dari Brazil. Pada mulanya ikan bawal diperdagangkan sebagai ikan hias, namun karena
pertumbuhannya cepat, nafsu makan tinggi serta termasuk pemakan segalanya
(Omnivora), ketahanan yang tinggi terhadap kondisi limnologis yang kurang baik,
disamping itu rasa dagingnya pun cukup enak, hampir menyerupai daging ikan
gurami dan dapat mencapai ukuran besar, maka masyarakat menjadikan ikan
tersebut sebagai ikan konsumsi sehingga produksinya tiap tahun semakin
meningkat (Cahyono, 2000).
Ikan bawal tidak bisa kawin secara alami
meskipun matang gonade. Pemijahannya harus dirangsang dengan suntikan hopofise.
Dialam, bawal akan memijah pada awal dan akhir musim penghujan. Oleh karena
itu, di indonesia, kematangan gonade bawal akan terjadi pada bulan oktober
sampai april. Dialam, ikan bawal akan memijah hulu sungai ketika ketika kemarau
kering. Jantan akan mengejar betina, lalu betina akan membalasnya denga
menempelkan perutnya ke pada jantan. Bila sudah sampai puncaknya, keduannya
berenang lebih gesit. Betina kemudian mengeluarkan telurnya dan diikuti jantan
dengan mengeluarkan spermanya (Heru,
2012).
III. METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum kali ini dilaksanakan pada hari jum’at, tanggal 12
April 2013, pukul 14.00-16.00
Wita yang dilaksanakan di Laboratorium Ichtyology Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan adalah sebagai berikut :
1.
Toples
2.
Kertas kalker
3.
Kertas label
4.
Alat tulis
5.
Pisau/catter
6.
Benang nilon
Adapun bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :
1.
Ikan bawal (Pampus argentius)
2.
Formalin 4%.
C. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja yang dilaksanakan dalam praktikum
Pengumpulan Ikan adalah sebagai berikut :
1.
Menyiapkan wadah atau tempat pengumpulan dan
penyimpanan ikan.
2.
Menyiapkan bahan pengawet berupa formalin.
3. Menyiapkan buku atau lembar catatan,
kertas tahan air (kertas kalker) dan peralatan tulis.
4.
Mencatat semua keterangan yang diperlukan pada kertas
kelat atau catatan.
5.
Memberi bahan pengawet hingga merendam tubuh ikan dalam
wadah khusus.
Sedangkan prosedur kerja yang
dilaksanakan dalam praktikum Pelabelan adalah sebagai berikut :
1.
Menyiapkan wadah penampung ikan, menyiapkan peralatan
tulis yang diperlukan.
2. Menyiapkan kertas label khusus tahan air
(kertas kalker).
3. Membuat catatan dan menempatkan pada
tempat yang bersesuaian.
4. Menempatkan hasil koleksi dalam rak atau
lemari yang khusus.
A. HASIL
1. Koleksi Ikan : Pengumpulan Ikan
V1 . N1 = V2 . N2
Keterangan :
V1 = Volume formalin pekat
V2 =
Volume pengencer encer
N1 =
Persentase formalin yang sudah di tetapkan
N2 =
Persentase pengencer yang akan di encerkan
Untuk
mengetahui banyaknya air yang diperlukan untuk mengencerkan formalin,
perhitungannya adalah sebagai berikut :
Diketahui :
N1
= 37%
V1 = 500 ml
N2
= 4%
Ditanya : V2
Maka hasil perhitungan yang
didapatkan adalah sebagai berikut :
|
V1 . N1 = V2
. N2
|
500 . 37% =V2. 4%
4%
= 4625
ml
V2- V1 = 4625 – 500
= 4125 ml
Maka formalin yang di gunakan
untuk pengawetan kali ini adalah formalin dengan kadar 4% dan volume untuk
mengencerkannya 4125 ml.
Adapun
ikan yang diawetkan ikan bawal (Pampus
argentius).
Klasifikasi ikan bawal (Pampus argentius).
Kingdom :
Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas :
Acetinopterygii
Ordo :
Perciformes
Famili :
Bramidae
Genus :
Pampus
Spesies :
Pampus argentius
Penamaan dan pengklasifiksian
Ikan bawal (Pampus argentius) kali
ini diperoleh dari buku identifikasi karya Hasanudin Saanin yaitu :
1. Rangka
terdiri dari tulang benar; tertutup oleh insang
Subclassis
TELEOSTEI 3
3. Kepala
simetris
4
4. Badan
tidak seperti ular
6
6. Badan bersisik
tidak, kadang-kadang seluruhnya
atau sebagian
tertutup
oleh kelopak-kelopak tebal
7
7. Garis
rusuk jika ada, di atas sirip dada
9
9. Tidak
demikian 10
10. Lebih
dari 2 sirip punggung yang keras 12
12. Hanya satu
sirip punggung, atau dua sirip punggung yang
bersambung atau berdekatan 16
16. Hanya
satu sirip punggung, sirip perut tak bersatu 17
17. Jari-jari dibelakang sirip punggung serta sirip dubur
merupakan sirip yang terpisah-pisah. 92
92. Ordo
PERCOMORPHI 94
94. Bersisiklingkaran
(cycloid) 95
95 Satu
sirip punggung 96
96. Sisik sedang atau kecil dan biasanyamudah
tanggal, kepala kurang
lebih bersisik, mulut sedang atau kecil, sirip
punggung yang berjari-
jari
keras yang kadang-kadang terpisah dari bagian yang berjari-jari
perut
berjari-jari keras 1 dan 5 jari-jari lemah, sirip dubur 3 jari-jari
keras,
sirip dada runcing.
Subordo
STROMATOIDEA
149
149. Permulaan sirip dubur
dibawah atau sedikit dibelakang permulaan sirip
dada,
tutup insang tipis, ruas tulang punggung 24-26, tulang tambahan
tutup
insang 5-7.
Familia
STROMATEIDAE
2427
2427. Tidak
bersirip perut.
Genus
PAMPUS 2431
2431. Bagian
depan dari sirip punggung dansirip dubur berlekuk dalam,
sebelah
belakang berjari-jari lemah sama panjang.
Pampus
argentius (Euphr)
Nama
Indonesia : Bawal.
2. Koleksi Ikan : Pelabelan
Adapun hasil yang didapat dari praktikum
kali ini adalah sebagai berikut :
Tabel 1.
label gantung.
|
Nomor/tanggal koleksi
|
:
|
IX/12 April 2013
|
|
Nama ilmiah / lokal
|
:
|
Pampus argentius / Bawal
|
|
Nama pengumpul
|
:
|
Ermawati
|
Tabel 2. label
ditempel pada toples.
|
|
:
|
IX/12 April 2013
|
|
Nama ilmiah/local
|
:
|
Pampus argentius / Bawal
|
|
Nama pengumpul
|
:
|
Ermawati
|
|
Kelamin ikan
|
:
|
Betina
|
|
Berat ikan
|
:
|
-
|
|
Warna ikan
|
:
|
Putih Kekungin-kuningan
|
|
Bahan pengawet
|
:
|
Formalin 4%
|
Lembar catatan data lapangan
1. Nomor koleksi : IX
2. Tanggal pengambilan : 12 April 2012 Jam : 14.00 WITA
3. Nama ilmiah/lokal : Pampus argentius / Bawal
4. Nama kolektor/pengumpul : Ermawati
5. Nama pengidentifikasi : Ermawati
6. Tempat pengambilan : Pasar Banjarbaru
Desa
/ Kecamatan : Banjarbaru kota
Kabupaten
/ Propinsi : Banjar/Kalimantan selatan
Nama
pulau dan perairan : Kalimantan dan Laut
Macam
perairan :
a. Selokan/sungai/saluran/genangan/kolam/telaga/waduk/danau
dangkal/danau dalam/rawa tawar/rawa payau/perairan pantai/laut/lainnya…………..
b. Tipe dasar perairan
Lumpur/pasir/batu/cadas/tanah
liat/lainnya…………….
7. Keterangan
perairan :
- Warna : -
O2 : ….-….ppm
- Kecerahan :
Cm - CO2 :
….-….ppm
-
Kedalaman : m -
PH :
-
Suhu udara : °C -
Alkalinitas : ….-….
-
Suhu air : °C
-
Salinitas : ppm
-
Tanaman air : -
-
Bagan/peta lokasi perairan : Rawa, Sungai, Waduk
8. Alat penangkapan ikan yang digunakan :
pancing
9. Jenis-jenis ikan yang tertangkap
bersamaan / hampir bersamaan : Ikan Bawal
B. Pembahasan
Koleksi
ikan didefinisikan sebagai kumpulan ikan yang diperlukan sebagai pengumpulan
contoh dalam rangka suatu penelitian, pengumpulan contoh untuk dijadikan
referensi, atau pengumpulan contoh untuk komunikasi antar para ahli atau antar
lembaga.
Secara umum pekerjaan koleksi ikan
meliputi pengumpulan berbagai jenis ikan, penyimpanan dalam media pengawet,
identifikasi dan pencatatan informasi yang berhubungan dengan koleksi ikan
serta pemberian label. Tujuan dari pengumpulan ikan ini untuk memberikan
pengalaman praktis tentang pekerjaan koleksi ikan, khususnya untuk ikan-ikan
yang terdapat disekitar kampus yang kemungkinan adalah jenis-jenis ikan air
tawar.
Pada praktikum kali ini, setelah ikan diteliti dan diamati untuk keperluan
studi, semua praktikan melakukan pengawetan ikan yang digunakan untuk melakukan
pengoleksian dalam suatu wadah. Wadah yang digunakan adalah toples plastik.
Sebelum ikan dimasukkan ke dalam toples, toples terlebih dahulu dibersihkan,
dicuci, kalu perlu menggunakan sabun dalam mencucinya. Toples itu kemudian
dikeringkan dengan tissue atau lap.
Dalam
praktikum koleksi ikan (pengumpulan ikan) kali ini, digunakan larutan formalin
4% yang diperoleh dari formalin 37% diencerkan dengan air sebanyak 4125 ml. Untuk
mengawetkan ikan, tiap-tiap kelompok membutuhkan 500 ml larutan formalin 4%. Ikan yang akan diawetkan direndam dalam
larutan formalin tersebut.
Koleksi
ikan didefinisikan sebagai kumpulan ikan yang diperlukan sebagai contoh atau
spesimen untuk keperluan studi, identifikasi, dan atau untuk pemajangan (tontonan).
Koleksi
ikan yang telah dilakukan perlu dilengkapi dengan keterangan-keterangan
sehingga berguna untuk masa yang akan datang, baik bagi kolektornya maupun
orang lain. Keterangan tersebut meliputi hal-hal yang berhubungan dengan
koleksi bersangkutan. Dalam hal ini ada 2 keterangan, yaitu :
1.
Keterangan singkat yang dilekatkan pada tubuh ikan.
2.
Keterangan yang lebih luas yang ditempelkan pada wadah
koleksi dan keterangan yang ditempatkan pada buku catatan khusus.
Setiap toples yang dikumpulkan
harus segera diberi label atau etiket, sehingga menjadi keterangan yang berguna
baik bagi pemilik koleksi maupun orang lain dalam jangka panjang. Label ditulis
di atas kertas dan tinta (pensil) tahan air, misalnya kertas kalker. Pembaharuan
label dapat dilakukan, namun apabila isinya ada perbedaan, etiket lama jangan
dimusnahkan. Etiket atau label berisi tentang keterangan tempat, waktu
(tanggal), dan nama petugas yang mengumpulkannya. Keterangan lain yang juga
penting adalah jenis kelamin, berat dan warna specimen.
Berdasarkan kepada tujuan atau
sifat dari koleksi, maka koleksi ikan dapat dibedakan menjadi 7 jenis koleksi
sebagai berikut :
1. Koleksi
museum umum
Koleksi ini
ditujukan untuk dipamerkan kepada masyarakat umum. Koleksi ini bertujuan agar
masyarakat dapat mengenal atau sedikitnya mengetahui jenis-jenis ikan yang ada.
2. Koleksi
pendidikan
Koleksi ini
dimiliki oleh Perguruan Tinggi dan dipergunakan dalam pengajaran kepada
mahasiswa dan untuk bahan praktikum.
3. Koleksi
himpunan penelitian sejagat
Koleksi ini
ditujukan kepada akumulasi spesimen-spesimen yang dikumpulkan dalam penelitian,
survai dan ekspedisi yang dilakukan dari waktu ke waktu.
Koleksi ini
diperoleh dari tiap-tiap survai yang dilakukan di daerah geografis tertentu.
5. Koleksi
riset
Ini adalah
koleksi yang bertujuan mengakumulasikan sebanyak mungkin bahan-bahan untuk
analisis taksonomik.
6. Koleksi
identifikasi
Koleksi ini
adalah koleksi yang dipergunakan dalam identifikasi taksonomik.
7. Koleksi
tipe spisemen
Ini adalah
koleksi yang terdiri dari spesimen-spesimen yang dipergunakan sebagai dasar
pemberian nama kepada spesies.
Namun
dalam praktikum yang dilaksanakan ini koleksi yang dapat digunakan hanyalah
koleksi pendidikan, koleksi identifikasi, dan koleksi spisemen. Sedangkan yang
lainnya hanyalah sebagai bahan ilmu pengetahuan semata.
A. Kesimpulan
Adapun
kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui
bagaimana cara mengoleksi ikan dan cara
pemberian label terhadap ikan yang dikoleksi.
2.
Mengetahui bagaimana cara mengewetkan ikan dengan memakai bahan dari
formalin dan mengetahui berapa perbandingan antara air dengan formalin agar
bisa menjadi bahan dalam pengawetan ikan.
B. Saran
Praktikan harus lebih serius
dalam mengikuti praktikum dan mendengarkan setiap pengarahan yang diberikan oleh
asisten dosen. Praktikan
berharap para asisten dapat membimbing dan memberikan arahan agar praktikum selanjutnya dapat berjalan
dengan lancar dan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar